RENUNGAN

AKTIF DALAM PENANTIAN

Lukas 12 : 35 – 40

Hendaklah pinggangmu tetap terikat dan pelitamu tetap menyala (ay.35)

       Salah satu kegiatan yang begitu membosankan bahkan  menyebalkan adalah menunggu atau menanti. Menanti suatu peristiwa tertentu yang penting atau menunggu seseorang yang sangat diharapkan kedatangannya. Begitu terfokusnya hati dan pikiran kita kepada yang diharapkan itu, membuat kita hanya terarah kepada penantian tersebut. Akibatnya hampir tidak ada aktivitas penting lainya yang kita kerjakan dalam proses menanti yang diharapkan itu. Aktivitas kita yang agak menonjol ketika menunggu itu hanyalah pengharapan dalam hati dan pikiran kita. Sebab dikala kita menanti dengan setia, berarti kita membutuhkan pengharapan yang pasti. Tanpa pengharapan yang kuat kita akan terbawa arus pesimistis. Terlaksana atau tertundanya yang dinantikan itu reaksi mereka yang pesimis adalah masa-bodoh, terserah atau EGP (emang gua pikirin). Dengan demikian menanti tanpa adanya pengharapan yang pasti bisa membuat orang pada satu sisi hanya memikirkan masa-kini saja. Sebaliknya pada sisi lain membuat orang hanya berpikir semata-mata tertuju kepada masa yang dinanti-nantikan itu. Sehingga kita melihat ada orang yang hanya berpikir dan bertindak pada kekinian secara horizontal saja. Di samping ada juga orang yang hanya berpikir kepada hal keakanan secara vertikal semata.

Tuhan Yesus mengajarkan dan menegaskan kepada kita, bahwa menantikan kedatanganNya harus secara aktif. Jangan dihalangi oleh jubah atau pakaian kita yang menyulitkan. Ikatlah pinggang dan sisingkanlah lengan baju kita agar tetap giat berkarya serta melayani. Sumbuh pelita kita harus selalu menyerap minyak sehingga tetap menyala dan menghalau kegelapan. Dengan penuh gembira dan bahagia kita menati Sang Mempelai datang kembali. Sebagaimana Tuhan Yesus secara aktif penuh kasih sayang mendatangi kita demikian juga dengan berlimpah sukacita dalam karya-layan bersama, kita menantiNya. Kita menantiNya dengan aktif dalam pengharapan iman yang pasti dan kuat. Seorang reformator gereja pernah berucap : “seandainya besok Kiamat (Parousia). Hari ini pun saya tetap akan menanam pohon apel…” Artinya kedatangan Tuhan Yesus kembali saat kita tidak tahu. Bagaikan seorang pencuri yang datang di malam hari. Kita ditantang supaya hanya selalu siap sedia dan berjaga-jagalah setiap waktu. “Karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan..” marilah kita tetap aktif, inovatif, kreatif dan positif berkarya serta melayani terus dalam penantian yang penuh kepastian juga kebahagiaan kekal.